
RRI.CO.ID, Lombok Barat – Rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Terpadu di lingkungan pondok pesantren mendapat dukungan penuh dari kalangan pengelola pesantren di Kabupaten Lombok Barat. Langkah tersebut dinilai menjadi upaya strategis untuk memperkuat perlindungan santri sekaligus mencegah terjadinya kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan.
Pondok Pesantren Lenterahati Lombok Barat menjadi salah satu lembaga yang menyambut positif gagasan tersebut. Pimpinan Ponpes Lenterahati Islamic Boarding School, Dr. Muazar Habibi, yang diwakili Wakil Direktur Ponpes Lenterahati, Ubaidillah, menilai keberadaan Satgas Terpadu merupakan kebutuhan penting bagi seluruh pesantren.
Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab besar karena menjadi tempat pendidikan sekaligus rumah kedua bagi para santri yang berasal dari berbagai daerah.
“Pembentukan Satgas Terpadu di pondok pesantren sangat penting dan sangat bermanfaat. Jika satgas ini berjalan dengan baik, tentu dapat membantu mengurangi tindakan perundungan atau bullying yang masih berpotensi terjadi di lingkungan santri,” ujar Ubaidillah saat ditemui RRI di Sekolah Lenterahati Islamic Boarding School. Kamis 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, kepercayaan orang tua kepada pesantren menjadi alasan kuat mengapa sistem perlindungan santri harus terus diperkuat.
“Orang tua menitipkan anak-anaknya kepada kami dengan penuh kepercayaan. Banyak santri datang dari daerah yang jauh dan tinggal bersama kami selama masa pendidikan. Karena itu kami memiliki komitmen besar untuk menjaga keamanan dan kenyamanan mereka,” katanya.
Ubaidillah mengungkapkan, meskipun Satgas Terpadu secara formal masih dalam tahap rencana, Ponpes Lenterahati sejatinya telah menerapkan sistem pengawasan dan penanganan persoalan santri melalui mekanisme yang terstruktur.
Menurutnya, pesantren telah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) serta majelis khusus yang menangani setiap persoalan yang muncul di lingkungan santri.
“Ketika ada persoalan antar santri, kami langsung melakukan penanganan secara terbuka. Kedua pihak dipanggil, kemudian orang tua juga kami libatkan melalui video call agar bisa menyaksikan proses musyawarah yang dilakukan. Selain itu, pimpinan pesantren juga wajib hadir dalam proses penyelesaian tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendekatan musyawarah dan pembinaan karakter menjadi prinsip utama yang diterapkan dalam setiap penyelesaian masalah.
“Alhamdulillah, selama ini setiap persoalan yang kami tangani dapat diselesaikan dengan baik dan mendapat dukungan dari orang tua santri. Jika ada santri yang melakukan pelanggaran, kami memberikan pembinaan edukatif seperti tambahan hafalan, membaca Surat Yasin, maupun kegiatan kebersihan lingkungan pesantren,” tegasnya.
Meski demikian, Ubaidillah mengakui bahwa tantangan terbesar dalam menciptakan lingkungan pesantren yang bebas dari perundungan adalah membangun kesadaran santri secara berkelanjutan.
“Tantangan terbesar kami adalah menyadarkan santri agar tidak melakukan bullying. Anak-anak yang kami didik masih berada dalam fase labil sehingga membutuhkan pendampingan dan pembinaan karakter yang terus-menerus. Kadang sudah diberikan pemahaman, tetapi bisa saja kembali terulang. Di situlah tantangan terbesarnya,” ucapnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak pesantren secara rutin memberikan sosialisasi kepada para santri mengenai pentingnya menjaga sikap, etika, serta menghormati sesama.
“Sosialisasi kami lakukan setiap hari. Setelah salat Ashar berjamaah, kepala kepesantrenan memberikan arahan dan penguatan kepada santri agar menjauhi tindakan yang tidak diinginkan serta menjaga suasana pesantren tetap kondusif,” katanya.
Selain itu, Ponpes Lenterahati juga melibatkan organisasi santri sebagai mitra strategis dalam menjaga lingkungan pesantren yang aman dan nyaman.
Menurut Ubaidillah, Organisasi Santri Lentera Hati (Orsila) memiliki peran penting dalam membantu pengawasan dan pembinaan teman sebaya.
“Keberadaan Orsila sangat membantu kami. Mereka diberikan tanggung jawab besar untuk mengarahkan teman-temannya agar tidak terjadi perundungan, perkelahian maupun tindakan negatif lainnya. Organisasi santri menjadi salah satu ujung tombak dalam menciptakan lingkungan pesantren yang sehat dan harmonis,” katanya mengakhiri.
