4,5 tahun lalu saat lulusan SMA. Abah menerima email pemberitahuan untuk registrasi beasiswa dari Jerman untuk cacak Jundu Muhammad Mufakkirul Islami, saat masa Covid berakhir. Lalu email itu abah sampaikan ke ummi sayang Dina Nurlaily Aprinaida dan abah sampaikan ke cacak langsung agar segera registrasi karena hanya diberikan waktu 2 minggu.

Diskusi panjang, namun menemukan jalan bunda. Cacak enggan untuk mengiyakan, tidak ada argumentasi selain hanya *tidak*. Abah dan ummi mendiamkan diri. Setelah waktu registrasi selesai, ada undangan kembali periode ke 2 juga ke Jerman dengan jurusan yang berbeda yaitu manajemen, abah dan ummi komunikasikan lagi. Jawabannya tetap tidak. Bagi orangtua tentu bangga anaknya alumni Pesantren Bumi Sholawat asuhan Gus Ali mampu menembus beasiswa Jerman. Tetapi mau bagaimana lagi yang menjalaninya enggan untuk berangkat.

Sudah hampir tidak lagi abah tanyakan dan ajak diskusi persoalan kuliah di Luar Negeri. Eh, justru ada panggilan lagi yang ke 3 dengan jurusan yang sama yaitu manajemen. Abah pikir, mungkin ini rizki dan cacak berubah pikiran, saat setelah makan kami bertiga, abah, ummi dan cacak diskusi.

Jawabannya mencengangkan dan membuat kami berdua terdiam, “abah bukan cacak ngak mau kuliah ke luar negeri, tetapi itu bukan passion cacak, cacak ingin melanjutkan apa yang abah rintis di dunia pendidikan, cacak ingin kuliah di jawa saja selain itu adek kan masih di pondok abah, cacak kan bisa bantu abah dan ummi nengok adik Muhammad Mu’roful Anam Al Islami di Bumi Sholawat. Kalimat itu yang membuat kami terdiam.

Sebelumnya memang ada kekecewaan yang mendalam bagi cacak, ia termasuk yang berprestasi di SMP-SMA nya. Mulai SMP ia juara futsal antar pesantren se Jawa dan menjadi penjaga gawang terbaik, cacak juga aktif di organisasi siswa sampai SMA, punyak prestasinya adalah juara nasional debat keagamaan di UIN Malang dan dapat beasiswa untuk melanjutkan disana, walau jurusannya yang akan dipilih Tarbiyah namun seperti itu bukan pilihannya, maka dilepas juga beasiswa itu. Cacak berharap bisa masuk Unesa jalur prestasi.

Namun alangkah kagetnya abah dan terpukulnya cacak, nama cacak di coret oleh kepala seolah karena dianggap kritis dan pernah memobilisasi demo teman-teman ke kepala sekolah. Saat mendengar itu abah langsung datangi kepala sekolahnya, namun karsna sudah uplod dan tidak bisa dirubah lagi, maka jalur prestasi masuk PTN itupun gagal (SNBP/seleksi berdasarkan prestasi akademik dan non-akademik tanpa tes)

Alhamdulillah kejadian yang menyakitkan itu tidak membuat cacak patah semangat, abah tawari kuliah di Universitas Mataram, di mana abah mengabdi, namun cacak punya pilihan sendiri. Dari awal sampai lulus SNBT (seleksi berbasis tes tulis yang menggunakan hasil UTBK) semua di urusan sendiri dan alhamdulillah lulus dan di terima di Universitas Negeri Surabaya jurusan Teknologi pendidikan.

Masa itu kuliah masih bisa online, namun cacak memilih berangkat untuk bisa kuliah tatap muka, dan dari itu mulai kenal dosennya dengan baik. “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” belum genap semester 3 sudah aktif Badan Eksekutif Mahasiswa bahkan tercatat sebagai ketua BEM Fakultas semester paling muda. Setelah 1 tahun menjabat BEM ia di panggil Rektor untuk menjadi wakil mahasiswa sebagai anggota Majelis Wali Amanah Universitas Negeri Surabaya yang anggotanya adalah para tokoh Jatim dan Nasional.

1 tahun masa anggota MWA itu dilakukan, ternyata belum selesai juga aktifas sebagai aktivis, cacak kembali aktif dan terpilih sebagai Sekjen Ikatan Mahasiswa Teknologi Pendidikan. Dalam hati terus terang abah khawatir jangan-jangan kuliahnya molor. Dengan yakin cacak mengatakan, insyAllah bisa tepat waktu.

Alhamdulillah, 3.5 tahun pas cacak menyelesaikan studi S1 nya dan langsung mendaftar S2 di Universitas Negeri Malang, betapa kagetnya cacak dinyatakan tidak lulus masuk S2 UM padahal cum laude, aktivis dan prestasi. Dicoba lagi, temanya tidak lulus lagi. Baru kemudian Abah telp Wakil Rektor I yang kebetulan dulu adek kelas abah di Ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran. Abah tanyakan kenapa tidak lulus? Setelah di cros cek, ternyata datanya masih tercatat Mahasiswa karena lulusnya cepat dan kampus belum sempat merubah di sistem, maka diminta untuk ikut daftar lagi. Alhamdulillah lulus.

2 semester tesisnya sudah jadi, namun harus menunggu semester 3 baru boleh ujian, disaat 6 bulan menunggu ujian cacak izin untuk magang di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang kebetulan ada karib abah Mas Dr. H. Mariman Darto sebagai staf sus Yai Menteri Prof Dr. H. Abdul Mu’ti.
Sebelum ujian tesis abah tanya, kapan cacak balik ke Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School untuk membantu abah, cacak menjawab “sedang giat-giat dan senangnya magang” abah sampaikan, cacak boleh magang tetapi cacak harus lanjut S3 langsung setelah lulus. Terlepas apalah nanti jadi ASN di Kemendikdasmen atau pulang.
Cacak menyanggupi itu.

Ternyata perjalanan panjang itu harus engkau tempuh cak. Ini bukan hanya tentang perjuangan, tetapi tengang sebuah inspirasi bagi adek dan para santri di Lenterahati Islamic Boarding School bahwa orang berilmu itu akan diangkat derajatnya sesuai janji Allah dalam QS Al-Mujadalah [58] ayat 11 berikut ini:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr
Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Maka teruslah untuk berkarya, insyAllah abah, ummi dan adek serta semua keluarga dan keluarga besar PAUD SD SMP SMA Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School akan selalu mendoakan cacak dan adek. Alhamdulillah selangkah demi selangkah apa yang cacak lakukan, yang dulu juga abah lalukan mulai diikuti jejak oleh adek.
Bismillah bisa!

sumber: https://www.facebook.com/share/p/19z6EMuKhp/

avatar Tidak diketahui

By

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari LENTERAHATI ISLAMIC BOARDING SCHOOL

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca